ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG – Sebuah terobosan dalam dunia pendidikan tinggi lahir dari disertasi promovendus Supriyadi yang resmi menyandang gelar doktor setelah menjalani sidang terbuka promosi doktor di Aula K Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila), Selasa, 15 April 2025.
Dalam disertasinya yang berjudul “Berpikir Kompleks dan Kesadaran Kritis dalam Pengembangan Online Collaborative Learning Theory untuk Membangun Pembelajaran Inovatif Berorientasi Aksi Kritis,” Supriyadi tidak hanya mengkaji model pembelajaran kolaboratif daring, tetapi juga menghadirkan teori baru yang relevan dengan tuntutan era digital dan kebutuhan berpikir kritis di dunia pendidikan.
Supriyadi mengembangkan Online Collaborative Learning Theory (OCLT) menjadi kerangka teori baru bernama Online Community Inquiry Theory (OCIT) yang menjadi dasar model pembelajaran inovatif SAKALIMA—sebuah model yang dirancang untuk mendorong pembelajaran berbasis aksi, kolaboratif, dan kontekstual, dengan pendekatan holistik serta fleksibel secara digital.
“Model pembelajaran ini tidak hanya menuntut siswa untuk berpikir, tapi juga untuk bertindak—mengintegrasikan pemahaman digital dengan kesadaran kritis terhadap realitas sosial,” ungkap Supriyadi saat memaparkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji.
Sidang terbuka dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Sunyono, M.Si., dan dihadiri para penguji internal dan eksternal, termasuk promotor dan co-promotor yang turut membimbing proses akademik Supriyadi. Disertasi ini mendapatkan pengakuan akademik tinggi karena menyajikan inovasi teoretis dan aplikatif dalam desain pembelajaran berbasis teknologi.
Tak hanya berhenti di teori, Supriyadi juga membuktikan kualitas akademiknya melalui publikasi di jurnal internasional terindeks Scopus, jurnal nasional terindeks Sinta 2, serta penulisan buku monograf yang telah bersertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Ia juga berhasil memperoleh hibah Penelitian Disertasi Doktor (PDD) dari Kemendikbudristek.
Dengan keberhasilannya ini, Supriyadi menjadi doktor ke-13 dalam bidang pendidikan di Unila, menandai kontribusi signifikan kampus ini dalam pengembangan pemikiran pendidikan berbasis teknologi dan kritisisme.***





