ALTUMNEWS.Com, LAMPUNG SELATAN -— Ketika manusia merasa berada di titik paling rendah, sering kali pertolongan Tuhan datang melalui cara yang tak terduga. Begitulah yang dialami Wahyono, seorang bapak dua anak asal Dusun Kenteng, Desa Gunungsari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Dengan dompet kosong dan tubuh letih, Wahyono menapaki aspal panas jalur Bypass dari Bandar Lampung menuju Pelabuhan Bakauheni hanya dengan harapan: bisa pulang kampung. Ia ditelantarkan oleh dua rekannya yang sebelumnya berangkat bersamanya untuk mencari pekerjaan di Lampung. Ketika ia sedang buang air kecil di toilet di titik penjemputan travel, kedua temannya beserta kendaraan meninggalkannya tanpa kabar.
“Saya cuma bisa pasrah, nggak tahu harus ngapain. Nggak punya uang, sendirian, dan bingung,” kata Wahyono lirih, Jumat (4/7) di Pelabuhan Bakauheni.
Beberapa hari sebelumnya, Wahyono datang ke Bandar Lampung untuk mengejar janji pekerjaan dari seseorang yang ternyata tidak bisa dihubungi setibanya di Gedong Air, Tanjungkarang Barat. Setelah berhari-hari mencari dan tidak mendapatkan hasil, mereka bertiga memutuskan pulang. Namun, hanya Wahyono yang tertinggal.
Dengan tas berisi alat tukang dan baju ganti, Wahyono berjalan kaki menuju Bakauheni. Di tengah terik siang Tarahan, seorang pengendara motor yang tidak ingin disebutkan namanya menghentikan laju motornya dan menawarinya tumpangan.
“Saya lihat dia jalan sendirian, bawa tas besar, saya langsung tergerak. Sepertinya Tuhan memang suruh saya lewat situ hari ini,” ujar sang pemotor.
Sang pengendara kemudian membawa Wahyono ke Pelabuhan Bakauheni dan menghubungi Humas PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bakauheni, Saiful Harahap, yang sudah dikenalnya sejak lama.
Mengetahui kondisi Wahyono, ASDP pun tidak tinggal diam. Atas dasar kemanusiaan dan kepedulian sosial, ASDP memfasilitasi penyebrangan Wahyono secara gratis ke Merak, Banten, sebagai bentuk empati dan uluran tangan.
“Kalau ada kejadian insidental seperti ini, kami bantu. Ini soal kemanusiaan. Kami percaya, siapa pun bisa mengalami hal seperti ini. Jadi kami bantu agar Pak Wahyono bisa diseberangkan,” kata Saiful kepada wartawan, Jumat siang (4/7), di Dermaga Eksekutif Bakauheni.
Saiful menegaskan, ini bukan kali pertama ASDP membantu penumpang yang kesulitan. “Kami ada di sini bukan hanya untuk jual tiket dan angkut kendaraan. Tapi juga untuk menjadi jembatan harapan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan,” tambahnya.
Bukan hanya membantu penyeberangan, ASDP Cabang Bakauhnei juga menyerahkan uang donasi untuk ongkos kereta dari Merak hingga Solo melalui jalur KA Lokal dan KA Banten Ekspres atau KA Krakatau.
“Saya enggak nyangka. Tuhan baik. Saat saya pikir semua jalan sudah buntu, saya malah ditolong orang-orang yang saya enggak kenal. Saya bersyukur sekali,” ujar Wahyono dengan mata berkaca-kaca.
Hari itu, di bawah terik matahari dan di tengah hiruk-pikuk pelabuhan, satu nyawa yang sempat hilang arah akhirnya kembali menemukan jalan pulang—lewat tangan-tangan yang digerakkan oleh belas kasih. Dan mungkin, lewat kuasa Tuhan yang bekerja dalam diam.***





