ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat program hilirisasi singkong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Selain itu, langkah ini menjadi strategi penting untuk memperkuat daya saing industri pangan Lampung.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan pemerintah tidak ingin petani hanya menjual singkong sebagai bahan mentah. Sebaliknya, pemerintah mendorong pelaku usaha mengolah singkong menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Hilirisasi merupakan jalan utama untuk mentransformasikan perekonomian daerah. Hilirisasi bukan sekadar membangun industri pengolahan, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan sektor pertanian, industri, dan perdagangan dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan,” ujar Jihan saat membuka kegiatan Penguatan Hilirisasi dan Daya Saing Industri Pangan dan Olahan Singkong Provinsi Lampung di Ballroom Hotel Radisson Bandar Lampung, Kamis (16/7/2026).
Lampung Kembangkan Industri Olahan Singkong Berbasis Agro
Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk memperkuat industri pangan berbasis singkong. Selain itu, forum tersebut menghadirkan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita, pemerintah kabupaten/kota, pelaku industri kecil menengah, serta pemangku kepentingan sektor pangan.
Menurut Jihan, sektor pertanian memiliki peran besar dalam perekonomian Lampung. Bahkan, sektor pertanian menyumbang sekitar 24 persen terhadap PDRB Lampung, sedangkan industri pengolahan memberikan kontribusi 19,11 persen.
Oleh karena itu, pemerintah terus meningkatkan kapasitas industri agar komoditas pertanian mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas. Dengan demikian, petani, pelaku usaha, dan masyarakat dapat menikmati peningkatan nilai tambah.
Produksi Singkong Lampung Capai 7,5 Juta Ton
Lampung memiliki peluang besar untuk menjadi pusat hilirisasi agro nasional. Selain menjadi salah satu penghasil singkong terbesar di Indonesia, provinsi ini juga memiliki infrastruktur pendukung seperti Jalan Tol Trans Sumatera, pelabuhan, jaringan kereta api, dan Bandara Radin Inten II.
Selanjutnya, Jihan menyebut produksi singkong Lampung pada 2025 mencapai lebih dari 7,5 juta ton. Dengan jumlah produksi tersebut, pemerintah melihat singkong sebagai modal utama untuk mengembangkan industri pangan, bahan baku industri, energi terbarukan, dan berbagai produk turunan lainnya.
Sementara itu, pemerintah terus menjaga kestabilan harga singkong. Pada awal masa kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, pemerintah menghadapi tantangan terkait harga singkong. Namun, melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan berbagai pihak, kondisi harga singkong mulai membaik.
Lampung Siapkan Cassava Center dan Industri Bioetanol
Tidak hanya fokus pada produksi, Pemerintah Provinsi Lampung juga membangun ekosistem riset melalui pembangunan Cassava Center. Pusat riset ini akan mengembangkan teknologi, inovasi, dan solusi untuk sektor budidaya serta industri singkong.
Selain itu, pemerintah daerah menggandeng PTPN untuk membangun industri bioetanol berbahan baku singkong. Melalui program tersebut, petani dapat memperoleh peluang pasar baru dan industri dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Sejalan dengan itu, pemerintah juga menghubungkan pengembangan industri singkong dengan program Desaku Maju. Program tersebut mencakup penguatan pertanian, penyediaan alat pascapanen, pelatihan vokasi, pengembangan UMKM, pembangunan infrastruktur desa, serta penguatan koperasi.
Kemenperin Dorong Lampung Jadi Klaster Industri Pangan Nasional
Di sisi lain, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai Lampung memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai klaster industri pangan nasional. Menurutnya, sektor pertanian yang kuat, posisi strategis, dan infrastruktur yang memadai menjadi keunggulan utama Lampung.
Selain itu, Faisol menyebut industri pengolahan Lampung memberikan kontribusi 19,11 persen terhadap PDRB. Angka tersebut bahkan sedikit lebih tinggi dibanding kontribusi industri pengolahan nasional.
Kemudian, pemerintah pusat terus mendukung pengembangan produk turunan singkong seperti mocaf, glukosa, sorbitol, hingga bioetanol. Dengan dukungan tersebut, industri singkong Lampung memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.
Pada akhirnya, penguatan hilirisasi singkong Lampung tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian. Lebih dari itu, program ini membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, memperkuat industri pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.***





