Oleh: Eddy Aqdhiwijaya
ALTUMNEWS.COm — Menghubungkan Teologi Islam Cinta (Mahabbah) dengan Pancasila adalah sebuah upaya yang sangat indah untuk menggali akar spiritual dari dasar negara kita. Keduanya bukan hal yang bertentangan, melainkan saling menyempurnakan. Teologi Islam Cinta menjadi landasan langit (spiritual), sementara Pancasila menjadi pijakan bumi (kebangsaan).
Dalam tradisi pemikiran Islam, para sufi seperti Rabi’ah al-Adawiyah, Jalaluddin Rumi, hingga Ibnu ‘Arabi mempopulerkan teologi Islam Cinta (Tasawuf). Mereka memandang bahwa Cinta merupakan penggerak utama alam semesta dan jembatan hubungan antara Khaliq (Pencipta) dengan makhluk.
Ketika ketulusan cinta ini mewujud dalam kehidupan berbangsa di Indonesia, ia menemukan artikulasinya yang sempurna dalam lima sila Pancasila. Berikut adalah bagaimana Teologi Islam Cinta berdialog secara harmonis dengan setiap sila dalam Pancasila.
1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Cinta sebagai Asal Mula
Dalam teologi Islam, Allah adalah Al-Wadud (Maha Mencintai/Mengasihi). Seorang hamba membangun hubungan dengan Tuhan bukan karena rasa takut akan hukuman (neraka) atau pamrih akan imbalan (surga), melainkan atas dasar cinta yang murni.
-
Sinergi dengan Pancasila: Sila pertama menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan. Teologi Islam Cinta membawa perspektif bahwa ekspresi keberagamaan di Indonesia sepatutnya menampilkan wajah Tuhan yang welas asih (Rahman dan Rahim), bukan wajah yang garang. Rasa cinta kepada Tuhan ini kemudian menjelma menjadi rasa cinta kepada sesama makhluk-Nya.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Cinta yang Memanusiakan
Ali bin Abi Thalib pernah berpesan: “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Ini adalah esensi dari Ukhuwah Insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Cinta mampu menembus sekat-sekat dogmatis ketika berhadapan dengan penderitaan manusia lain.
-
Sinergi dengan Pancasila: Sila kedua menuntut kita untuk berlaku adil dan beradab. Teologi Islam Cinta memandang keadilan bukan sekadar hitung-hitungan hukum yang kaku, melainkan sebuah dorongan empati untuk menghormati hak-hak dasar setiap manusia, tanpa memandang latar belakangnya.
3. Persatuan Indonesia: Cinta yang Merajut Keragaman
Jalaluddin Rumi menuturkan bahwa cahaya itu satu, meskipun lampu yang memancarkannya berbeda-beda. Tuhan menciptakan keragaman suku, ras, dan agama di Indonesia sebagai sebuah keniscayaan (Sunnatullah).
-
Sinergi dengan Pancasila: Sila ketiga, yang diikat oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika, hanya bisa tegak jika masyarakat memiliki rasa saling memiliki (belonging). Dalam Islam, cinta tanah air (Hubbul Wathan) merupakan bagian dari manifestasi jiwa yang sehat. Tanpa adanya energi cinta, keragaman akan melahirkan perpecahan; namun dengan cinta, kita merayakan perbedaan itu sebagai kekayaan bersama.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan: Cinta yang Mendengar
Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah, dan seorang pemimpin adalah pelayan umat (Sayyidul qaumi khadimuhum). Kepemimpinan yang lahir dari Teologi Islam Cinta akan memancarkan sifat Hikmat—sebuah kebijaksanaan mendalam yang melampaui ego pribadi atau golongan.
-
Sinergi dengan Pancasila: Sila keempat menempatkan musyawarah bukan sekadar ajang adu debat untuk mencari pemenang, melainkan sebuah ruang dialog yang hangat. Ketika para pemimpin dan rakyat berdialog dengan rasa cinta dan saling menghormati, mereka akan selalu menghasilkan keputusan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan penindasan mayoritas terhadap minoritas atau sebaliknya.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Puncak Manifestasi Cinta
Cinta tidak berhenti pada perasaan di dalam hati, ia harus berdampak pada aksi nyata. Dalam Islam, kepedulian terhadap kaum duafa (yang lemah) dan mustad’afin (yang tertindas) menjadi ukuran utama dari tegaknya iman seseorang.
-
Sinergi dengan Pancasila: Sila kelima adalah tujuan akhir dari bernegara. Teologi Islam Cinta memaksa kita untuk peduli dan tidak menutup mata terhadap ketimpangan sosial. Keadilan sosial menjadi bukti nyata bahwa cinta telah membumi; yaitu ketika seluruh rakyat Indonesia merasakan aliran kesejahteraan yang merata, bukan hanya menumpuk di satu golongan saja.
Kesimpulan: Pancasila sebagai Sajadah Spiritual Bangsa
Pancasila adalah kesepakatan luhur (Kalimatun Sawa) bangsa Indonesia. Ketika dijiwai oleh Teologi Islam Cinta, kita tidak lagi memandang Pancasila sebagai doktrin politik yang kaku.
Pancasila bertransformasi menjadi sajadah spiritual—sebuah ruang bersama tempat kita merajut nilai-nilai ketuhanan yang inklusif, kemanusiaan universal, dan keadilan dengan rasa kasih sayang demi menjaga keutuhan NKRI.





