Gunung Kancil Bandar Lampung: Dulu Hutan dan Gua, Kini Jadi Permukiman

ALTUMNEWS.Com, BANDAR LAMPUNG — Gunung Kancil di Kelurahan Jagabaya II, Kecamatan Way Halim, Kota Bandar Lampung, menyimpan cerita tentang perubahan kawasan dari masa ke masa. Sebelum rumah-rumah memenuhi kawasan sekitar, warga mengenal Gunung Kancil sebagai wilayah berhutan yang memiliki batuan khas dan sebuah gua.

Hermansyah (57), Kepala Lingkungan Jagabaya II yang tinggal tepat di bawah Gunung Kancil, masih mengingat kondisi kawasan tersebut. Saat Altumnews.com menemuinya di kediamannya pada Selasa petang (10/8/2026), ia menceritakan perubahan Gunung Kancil sejak mulai tinggal di kawasan itu pada 2011.

“Kalau dulu ya, saya cerita dengan kawan-kawan sebelum saya masuk, di situ kan ada gua. Cuma sekarang nggak ada lagi. Kalau dulu itu kan masih di bawah hutan,” kata Hermansyah.

Gunung Kancil Dulu Masih Dikelilingi Hutan

Menurut Hermansyah, warga masih melihat kawasan berhutan di sekitar Gunung Kancil ketika ia pertama kali tinggal di sana.

Perubahan mulai terlihat beberapa tahun kemudian. Sekitar 2015, kondisi kawasan semakin berubah dan warga mulai kehilangan sejumlah bagian yang sebelumnya mereka kenal sebagai kawasan hutan.

“Jadi dia kebukanya itu udah 2015. Ya nggak gua-gua aman. Sebuah batu di situ. Cuma dulu itu namanya hutan,” ujarnya.

Kini, rumah warga mengelilingi kawasan Gunung Kancil. Perubahan tersebut membuat jejak kondisi lama semakin sulit terlihat.

Data resmi Kelurahan Jagabaya II mencatat wilayah tersebut berada di Kecamatan Way Halim, Kota Bandar Lampung. Kelurahan itu terdiri dari tiga lingkungan dan 32 RT.

Cerita Gua dan Kepercayaan Warga

Selain cerita tentang hutan, masyarakat juga menyimpan cerita mengenai gua yang dahulu berada di kawasan Gunung Kancil.

Berbagai kepercayaan kemudian berkembang di tengah warga. Sebagian orang menghubungkan batu atau lokasi tertentu dengan cerita yang mereka dengar dari masyarakat sebelumnya.

Hermansyah tidak mengklaim cerita tersebut sebagai fakta. Ia menyebut warga biasanya membicarakannya dalam percakapan sehari-hari.

“Biasalah orang-orang itu kan kepercayaan, keyakinan. Ada yang nyari batu, ada bahasanya. Kadang-kadang saya lewat ketemu batu, kata ada orang,” tuturnya.

Ia pun menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui kebenaran cerita tersebut.

“Ya cerita-cerita sambil ngobrol-ngobrol kosong itu. Tapi kebenaran saya juga nggak tahu,” katanya.

Dengan demikian, cerita mengenai gua dan berbagai kepercayaan di Gunung Kancil lebih tepat melihatnya sebagai bagian dari cerita lisan masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.

Batu Gunung Kancil Punya Bentuk Berlapis

Kawasan Gunung Kancil juga menarik perhatian karena karakter batuannya.

Hermansyah menggambarkan batu di sekitar kawasan tersebut memiliki lapisan yang saling menyilang. Kondisi itu membuat batu sulit dipecah.

“Karena di sini kan batu semua. Batunya batu berlapis. Beda dengan batu kogak,” ujarnya.

Menurut pengamatannya, susunan batu di Gunung Kancil tidak memiliki serat seperti batu yang ia temui di kawasan lain.

“Dia saling nyilang-nyilang kayak gini. Batu ngampar. Susah,” katanya.

Ia kemudian membandingkan karakter batu Gunung Kancil dengan batu di kawasan Cabang.

“Kalau memang kayak batu di cabang itu, koga itu, dia punya serat. Ini nggak nih. Batunya nggak punya serat. Dia pecah,” ujar Hermansyah.

Karakter batu tersebut menjadi bagian dari kondisi alam yang warga kenali di sekitar Gunung Kancil.

Kenapa Namanya Gunung Kancil?

Asal-usul nama Gunung Kancil juga menyimpan lebih dari satu cerita. Hermansyah mengatakan masyarakat memiliki dua asumsi yang berkembang secara turun-temurun.

Cerita pertama menghubungkan nama tersebut dengan kemungkinan keberadaan kancil pada masa lalu.

“Sejarah Gunung Kancil. Ada dua asumsi masyarakat. Mungkin dulu banyak kancil, sejarah-sejarah. Bisa jadi terjadi,” kata Hermansyah.

Cerita kedua membandingkan ukuran Gunung Kancil dengan Gunung Sulah yang berada di kawasan sekitar.

“Kemudian memang ini kecil dibandingkan di Gunung Sulah. Jadi ada dua versi asumsi pemikiran masyarakat di situ,” ujarnya.

Sampai sekarang, dua cerita tersebut masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat. Belum ada satu versi yang dapat memastikan asal-usul nama Gunung Kancil berdasarkan kesaksian warga tersebut.

Gunung Kancil Kini Jadi Penanda Jagabaya II

Perkembangan permukiman mengubah wajah kawasan Gunung Kancil. Rumah-rumah kini berdiri di sekitar bukit, sementara kawasan yang dahulu masih berhutan semakin sulit warga kenali.

Keberadaan Jalan Gunung Kancil juga menunjukkan kuatnya posisi nama tersebut sebagai penanda kawasan. Data pemerintah bahkan mencatat alamat fasilitas pendidikan di Jalan P. Buton Gang Gunung Kancil, Jagabaya II, Way Halim, Bandar Lampung.

Kondisi itu membuat Gunung Kancil memiliki dua sisi cerita. Di satu sisi, kawasan tersebut menjadi bagian dari perkembangan permukiman Bandar Lampung. Di sisi lain, warga lama masih menyimpan ingatan tentang hutan, gua, batu, dan cerita yang pernah berkembang di sana.

Gunung Kancil Memiliki Ketinggian 188 Mdpl

Selain cerita masyarakat, Gunung Kancil juga memiliki karakter geografis yang menarik.

Hermansyah menyebut pemetaan kawasan menunjukkan keliling Gunung Kancil mencapai sekitar 3.000 meter. Sementara itu, ketinggiannya berada di sekitar 188 meter di atas permukaan laut (mdpl). Data tersebut juga tercantum dalam pemberitaan mengenai Gunung Kancil yang terbit pada Agustus 2026.

Ukuran tersebut membuat Gunung Kancil menjadi salah satu bentang alam yang menonjol di kawasan Jagabaya II.

Di tengah pertumbuhan Kota Bandar Lampung, bukit ini terus berdampingan dengan perkembangan permukiman. Namun, cerita warga seperti Hermansyah menjaga ingatan tentang kondisi Gunung Kancil sebelum perubahan kawasan berlangsung.

Dari hutan, gua, dan batu hingga rumah-rumah yang kini mengelilinginya, Gunung Kancil menjadi bagian dari perjalanan perubahan Jagabaya II sekaligus menyimpan cerita lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.***