ALTUMNEWS.Com, PALEMBANG – Kemudahan mencari informasi melalui Google dan media sosial belum otomatis membuat generasi muda semakin dekat dengan sejarah. Juru Kunci Bukit Siguntang, Sulaiman atau akrab disapa Kak Leman, justru melihat minat anak muda terhadap sejarah semakin terbatas.
Menurut Kak Leman, sebagian besar anak muda kini lebih banyak menghabiskan waktu di TikTok dan berbagai platform digital lainnya. Hanya sebagian kecil yang secara khusus memiliki minat untuk mengenal dan mempelajari sejarah.
“Sebetulnya dengan adanya medsos atau digital itu kan lebih cepat atau lebih mudah mencari, menyaring. Karena tinggal ketik, Google keluar semua. Tapi anak-anak muda sekarang kan hanya 10 persen yang bukan hobi, yang mengenali sejarah,” kata Kak Leman saat ditemui di Bukit Siguntang, Jalan Srijaya Negara, Bukit Lama, Ilir Barat I, Palembang, Senin (8/6/2026).
Sejarah Tak Cukup Sekadar Hafalan
Persoalan tersebut bukan sekadar soal minat membaca. Menurut Kak Leman, sejarah memiliki banyak lapisan sehingga seseorang perlu melihat sebuah peristiwa melalui berbagai sumber dan sudut pandang.
“Sejarah itu bukan hanya sejarah. Ada historis, ada story, ada dongeng, ada hikayat, ada sastra, ada cerita rakyat,” ujarnya.
Sudut pandang ilmiah, agama, filsafat, hingga kepercayaan masyarakat juga dapat menghasilkan penafsiran berbeda terhadap sebuah cerita.
Setiap perspektif memiliki dasar dan argumen masing-masing. Karena itu, pembaca perlu memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan mengenai sebuah peristiwa sejarah.
“Kata ilmiah, oh begini berdasarkan penemuan artefak. Kata agama, oh enggak, begini-begini. Kata supranatural, oh beda, aku sudah ketemu langsung. Tinggal kita lihat dari sudut pandangnya,” katanya.
Sejarah Bisa Berubah Menurut Sudut Pandang
Persoalan lain muncul dalam proses penulisan sejarah. Sebuah peristiwa dapat memiliki versi berbeda karena penulis membawa pengalaman, kepentingan, dan sudut pandangnya sendiri.
“Sama dengan sejarah. Ini kadang sejarah itu tergantung siapa yang bercerita. Pertama, yang kedua sejarah itu kan bukan ditulis oleh yang benar, ditulis oleh pemenang,” ujar Kak Leman.
Ia menggambarkan perubahan kekuasaan dalam sebuah kerajaan sebagai salah satu contoh. Ketika pihak yang sebelumnya kalah mengambil alih kekuasaan, penguasa baru dapat meninggalkan catatan berdasarkan versinya sendiri.
Pengaruh kolonialisme Belanda juga menjadi salah satu faktor yang membuat perjalanan sejarah Indonesia memiliki banyak lapisan cerita.
Karena itu, pembaca perlu berhati-hati ketika menerima satu versi sejarah sebagai kebenaran tunggal.
Bukit Siguntang Jadi Ruang Belajar Sejarah Palembang
Bagi Kak Leman, Bukit Siguntang menjadi salah satu tempat penting untuk mengenal sejarah Palembang. Situs tersebut menyimpan berbagai cerita yang berkembang dalam tradisi, sejarah, dan kebudayaan masyarakat setempat.
Namun, datang ke situs sejarah tidak cukup hanya untuk mendengar cerita. Pengunjung juga perlu mencari sumber pembanding dan memahami berbagai perspektif yang muncul.
Teknologi dapat membantu proses tersebut. Berbagai referensi kini tersedia di internet dan bisa diakses melalui telepon genggam.
Di sisi lain, kemudahan itu membawa tantangan baru. Informasi di media sosial tidak selalu memiliki konteks dan sumber yang jelas.
Karena itu, generasi muda perlu membangun kebiasaan untuk mencari, membandingkan, dan mengkaji informasi sejarah. Konten digital sebaiknya menjadi pintu masuk untuk belajar, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
TikTok Bisa Jadi Pintu Masuk Sejarah
Meski menyoroti rendahnya minat generasi muda, Kak Leman tidak menutup mata terhadap perkembangan media sosial.
Platform digital justru dapat membantu mengenalkan sejarah kepada anak muda jika pengelola konten menyajikannya secara menarik.
YouTube, TikTok, dan platform lainnya bisa memperkenalkan tokoh, tempat, kerajaan, atau peristiwa tertentu kepada penonton muda.
Setelah memperoleh informasi awal, penonton dapat melanjutkan pencarian melalui buku, arsip, penelitian, maupun sumber lain yang lebih kredibel.
“Untuk menelusuri, mengkaji. Tapi kalau cerita, bolehlah di YouTube diapakan. Pendapat ini, pendapat itu,” kata Kak Leman.
Ia berharap generasi muda tidak berhenti pada hafalan nama kerajaan seperti Singasari, Majapahit, Kediri, Demak, atau Pajang.
Pemahaman sejarah membutuhkan proses lebih panjang. Generasi muda perlu mengetahui bagaimana sebuah cerita lahir, siapa yang menulisnya, sumber apa yang mendukungnya, dan mengapa sebuah versi sejarah bisa berbeda dengan versi lainnya.
Bagi Kak Leman, menjaga sejarah berarti menjaga kemauan untuk terus mencari tahu. Di tengah derasnya arus konten digital, kemampuan menyaring informasi menjadi bagian penting agar cerita masa lalu tidak hilang begitu saja.***





