Survei Vox Point: Awam Katolik Lampung Siap Berpartisipasi di Masyarakat

Uncategorized4,547 views

Komunitas yang Terus Bertumbuh

Komunitas Gereja kita terus bertumbuh. Keuskupan Sufragan resmi berdiri pada 1961.

Saat itu, Mgr. Albertus Gentiaras, SCJ memimpin Keuskupan. Tahta Suci mengangkatnya sebagai uskup. Paus Yohanes XXIII kemudian menahbiskannya di Roma.

Sebelumnya, Mgr. Albertus Gentiaras menjabat Prefek Apostolik sejak 1952. Pelayanan Gereja Katolik di Lampung sendiri sudah dimulai sejak 1928. Tanjung Karang menjadi salah satu pusat awal pelayanan tersebut.

Peran Awam Katolik Mulai Berkembang

Pada masa awal itu, peran Awam Katolik di tengah masyarakat belum terlihat kuat. Aktivitas pastoral juga sangat berpusat pada imam.

Model tersebut sering disebut Pastor Centris atau pendekatan top down. Pada masa itu, gagasan tentang peran umat dalam kehidupan bermasyarakat belum berkembang luas.

Akibatnya, komunitas umat cenderung berjalan secara eksklusif selama beberapa dekade. Jejak mentalitas tersebut bahkan masih terlihat di sejumlah tempat hingga sekarang.

Kemudian, situasi mulai berubah ketika Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ memimpin sejak 1976. Ia mendorong umat untuk mengembangkan kemandirian dalam karya pastoral.

Gerakan Awam Katolik pun mulai tumbuh. Secara bertahap, umat semakin aktif mengambil peran di tengah masyarakat Lampung.

Perpasgelar I 1992 Jadi Tonggak Penting

Perpasgelar I pada 1992 menjadi salah satu momentum penting bagi Keuskupan Tanjungkarang. Forum tersebut memberikan arah baru bagi kehidupan umat.

Secara khusus, forum itu mendorong Awam Katolik untuk semakin aktif dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.

Gereja kemudian semakin menyadari bahwa perkembangan umat membutuhkan peran semua pihak. Klerus dan awam memiliki tugas masing-masing.

Dengan demikian, keduanya dapat bekerja secara sinergis sebagai satu kesatuan umat Allah. Pada saat yang sama, umat juga menjalankan peran sebagai warga masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan Konsili Vatikan II pada 1962-1965. Gereja membuka diri kepada dunia yang lebih luas.

Karena itu, umat mendapat dorongan untuk menjadi ragi, garam, dan terang di tengah masyarakat. Mereka menjalankan tugas kenabian, imamat, dan rajawi sebagai bagian dari perutusan.

Semangat Gereja yang Semakin Inklusif

Semangat inklusif juga semakin terlihat dalam perjalanan Keuskupan Tanjungkarang. Motto episkopal Mgr. Yohanes Harun Yuwono memperkuat semangat tersebut.

Motto itu berbunyi, “Allah Tidak Membeda-bedakan Orang” (Kisah Para Rasul 10:34).

Melalui semangat tersebut, Gereja semakin membuka diri. Komunitas umat juga semakin terdorong untuk hadir di tengah masyarakat.

Survei Kepedulian Awam Katolik

Vox Point Indonesia Provinsi Lampung kemudian melakukan survei pada semester pertama 2021. Survei berlangsung selama tiga bulan.

Direktorat Sosial Politik Kemasyarakatan DPD Vox Point Indonesia Lampung menjalankan survei tersebut. Ir. YB. Lilik Ariyanto, ST., M.ST. memimpin direktorat tersebut.

Tujuan utama survei ialah menggali informasi tentang kepedulian Awam Katolik terhadap kehidupan sosial, politik, dan kemasyarakatan.

Hasil survei juga menjadi bahan penyusunan program kerja DPD Vox Point Indonesia Lampung.

Selain itu, survei ingin melihat respons umat terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Partisipasi umat dalam masyarakat juga menjadi perhatian utama.

Melibatkan 114 Responden

Tim melakukan survei secara acak melalui kuesioner. Responden berasal dari berbagai wilayah Keuskupan Tanjungkarang.

Hasilnya, sebanyak 114 umat mengisi survei. Mereka berasal dari lebih dari separuh jumlah paroki dan Unit Pastoral.

Survei berlangsung pada 23 Februari hingga 23 Mei 2021.

Tiga Temuan Utama Survei

Hasil survei menunjukkan tiga gambaran utama tentang kepedulian umat terhadap kehidupan sosial dan politik.

1. Kondisi Tata Kelola

Lebih dari 70 persen responden menilai tata kelola pemerintahan belum berjalan baik.

Artinya, mayoritas responden masih melihat persoalan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

2. Partisipasi Masyarakat

Sebanyak 100 persen responden menyatakan pentingnya keterlibatan warga Katolik dalam kehidupan masyarakat.

Dengan kata lain, seluruh responden mendorong umat untuk mengambil bagian dalam berbagai peran sosial.

3. Peran dalam Masyarakat

Hampir 50 persen responden menyatakan keterlibatan dalam berbagai bidang. Bidang tersebut mencakup eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Dari temuan tersebut, terlihat adanya keinginan umat untuk mengambil peran lebih luas.

Dari Kesadaran Menuju Aksi

Hasil survei tentu tidak cukup jika hanya berhenti pada penilaian. Selanjutnya, umat perlu memperkuat keberanian untuk mengambil tindakan.

Kesadaran untuk terlibat sebenarnya sudah tumbuh. Tantangannya kini ialah mengubah kesadaran tersebut menjadi gerakan nyata.

RD Yohanes Thedens Tana pernah menyampaikan istilah sederhana, “just do it”, dalam sebuah acara pada 2004.

Pesan tersebut menekankan pentingnya tindakan. Kesadaran memasyarakat sudah ada. Karena itu, umat perlu berani mewujudkannya.

Panggilan Awam di Tengah Masyarakat

Bagi Awam Katolik, keterlibatan sosial bukan sekadar aktivitas biasa. Umat menjalankan peran tersebut sebagai bagian dari panggilan iman.

Dengan demikian, peran sosial juga berkaitan dengan konsekuensi Rahmat Baptis. Awam Katolik menjalankan tugas kerasulan di tengah masyarakat.

Pada saat yang sama, umat menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara. Karena itu, iman dan kehidupan bermasyarakat dapat berjalan beriringan.

Tantangan Mentalitas Umat

Survei juga menemukan persoalan lain. Tim melihat sebagian umat masih ragu ketika mengikuti survei.

Beberapa responden bahkan mempertanyakan apakah survei tersebut sudah mendapat izin uskup. Hal itu menunjukkan, sebagian umat masih memiliki ketergantungan yang cukup kuat pada otoritas gerejawi.

Pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi. Bahkan, muncul gurauan dari seorang warga Lampung Tengah tentang ketergantungan tersebut.

“Mau mendirikan kandang ayam saja, jangan-jangan mesti tanya Romo dulu. Sebaiknya menghadap ke mana?”

Gurauan itu memang terdengar sederhana. Namun, pesan di baliknya cukup serius. Umat perlu semakin percaya diri dalam mengambil peran sebagai awam.

Menurut Direktorat Sosial Politik Kemasyarakatan DPD Vox Point Indonesia Lampung, setiap respons umat tetap memiliki nilai.

Dengan demikian, hasil survei dapat menjadi bahan evaluasi. Temuan tersebut juga dapat membantu organisasi menyusun program yang lebih tepat.

Berjalan dengan Penuh Harapan

Survei ini diharapkan menjadi alat untuk memperkuat peran Awam Katolik. Selanjutnya, hasilnya dapat membantu menyusun perencanaan dan strategi pelayanan.

Fokusnya ialah meningkatkan kualitas dan memperluas peran umat di masyarakat.

Selain itu, pengembangan tersebut perlu berjalan selaras dengan pertumbuhan Gereja. Komunitas umat diharapkan semakin inklusif.

Prinsipnya tetap kuat. Namun, cara penerapannya dapat menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, sinergi antara awam dan hierarki menjadi kunci. Keduanya dapat membangun Gereja yang semakin hadir di tengah masyarakat.

Semoga komunitas Gereja di Lampung semakin mandiri. Semoga umat juga semakin berdaya tahan dan berdaya pikat.

Lebih dari itu, Gereja diharapkan terus menjadi komunitas yang transformatif. Tantangan dunia semakin kompleks. Karena itu, peran umat juga perlu semakin kuat.


Disusun oleh:
TA. Kumbono, SP.
Sekretaris DPD Vox Point Indonesia Lampung
(Berdasarkan survei Vox Point Indonesia DPD Lampung)