Kebakaran Hutan Lampung, Mirza Dorong Pencegahan hingga Desa

ALTUMNEWS.com, BANDAR LAMPUNG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam sejumlah wilayah di Lampung. Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, telah berlangsung selama 24 hari sejak 25 September 2026.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta petugas mempercepat pemadaman. Ia juga menginstruksikan pemerintah daerah memperkuat mitigasi hingga tingkat desa. Langkah ini bertujuan mencegah titik api baru di tengah cuaca kering dan panas.

Mirza menyampaikan arahan tersebut dalam konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Senin (19/10/2026).

“Penanganan bencana tidak akan bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semangat kolaborasi itu harus kita dorong, dengan koordinasi yang baik bersama TNI, Polri, relawan, serta masyarakat di desa, kabupaten, kota, dan kecamatan,” ujar Mirza.

Kebakaran Way Kambas Berlangsung 24 Hari

Kebakaran di kawasan TNWK menjadi salah satu fokus utama penanganan bencana di Lampung. Hingga laporan 18 Oktober 2026, petugas darat telah menangani area sekitar 192 hektare.

Tim udara juga melakukan sedikitnya 923 kali water bombing atau pengeboman air. Operasi tersebut menyiram area seluas sekitar 124 hektare.

Namun, api dan asap masih muncul di beberapa titik. Pemantauan drone pada pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya mengindikasikan sekitar 30 hektare area terbakar atau berasap.

Area tersebut meliputi titik B seluas sekitar 3 hektare, titik C sekitar 13 hektare, dan titik D sekitar 14 hektare.

Petugas mengerahkan empat tim untuk menangani kebakaran. Mereka memantau kondisi lapangan menggunakan drone, memadamkan api di Rawa Gelam dan titik B, serta membuka jalur menuju titik D sepanjang sekitar enam kilometer.

Vegetasi Rapat Hambat Pemadaman Karhutla

Petugas menghadapi sejumlah kendala saat memadamkan api di kawasan TNWK. Vegetasi yang rapat menyulitkan pergerakan tim menuju titik kebakaran.

Keterbatasan peralatan dan logistik juga memperlambat pekerjaan. Selain itu, petugas harus menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer dari Sungai Way Pegadungan untuk menjangkau titik api.

BNPB memberikan dukungan peralatan pemadaman untuk memperkuat operasi. Petugas berencana menyalurkan bantuan tersebut kepada sekitar 350 personel satuan tugas darat.

Pemerintah Provinsi Lampung juga meminta tambahan helikopter. Dukungan udara diharapkan membantu petugas menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.

Mirza Minta BPBD Petakan Titik Panas

Gubernur Mirza menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh hanya memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Pemerintah daerah perlu mengenali wilayah rawan dan mencegah aktivitas yang memicu kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi menjelaskan bahwa pihaknya memantau titik panas melalui citra satelit, aplikasi Pusdalops, serta laporan masyarakat dan BPBD kabupaten/kota.

Sistem pemantauan memperbarui data satelit dua kali sehari, sekitar pukul 08.00 dan 20.00 WIB.

Hasil pemantauan malam yang dirilis pagi hari rata-rata menunjukkan 30–60 titik panas. Sementara itu, hasil pemantauan siang yang dirilis malam hari dapat mencatat 80–100 titik panas.

Meski begitu, titik panas tidak selalu menandakan kebakaran hutan atau lahan. Suhu permukaan yang tinggi dan aktivitas pembakaran terkendali juga dapat memunculkan indikasi tersebut.

Karena itu, petugas perlu memeriksa setiap indikasi sebelum menyimpulkan adanya kebakaran.

Mirza meminta BPBD mengolah data tersebut untuk memetakan wilayah rawan. Selanjutnya, pemerintah kabupaten dan kota dapat meneruskan informasi kepada kepala desa.

Langkah ini membantu aparat desa mengenali kebiasaan warga yang berpotensi memicu kebakaran. Pemerintah juga perlu meningkatkan sosialisasi tentang bahaya membakar sampah dan membuka lahan dengan api selama musim kering.

Operasi Modifikasi Cuaca Berhenti karena Awan Tidak Mendukung

BPBD Lampung, BNPB, dan BMKG sebelumnya menjalankan operasi modifikasi cuaca pada 11–13 Oktober 2026.

Tim melaksanakan tiga sorti penerbangan dengan total durasi 6 jam 16 menit. Mereka menggunakan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.

Namun, tim menghentikan operasi pada 18 Oktober karena tidak menemukan awan potensial untuk penyemaian.

Dalam konferensi pers, pemerintah menyampaikan bahwa BMKG memperkirakan cuaca masih sangat kering dan panas. Kondisi ini menuntut petugas dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran.

Kebakaran Juga Melanda Tulang Bawang dan Lampung Tengah

Petugas turut menangani kebakaran di sekitar gerbang tol Menggala, Kabupaten Tulang Bawang. Kebakaran yang terjadi pada 16 Oktober itu berhasil dikendalikan pada malam hari.

Petugas kemudian melanjutkan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Kebakaran lain terjadi di tempat pembuangan sampah sekitar kilometer 132B Tol Lampung Tengah. Lokasinya berada di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar.

Api membakar area sekitar 1,5 hektare. Laporan penanganan tidak mencatat korban jiwa maupun kerusakan bangunan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengoordinasikan bantuan personel dan armada pemadam dari sejumlah daerah.

Bandar Lampung mengirim dua unit mobil pemadam. Sementara itu, Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran masing-masing mengirim satu unit.

Tim juga mengerahkan ekskavator untuk mengurai dan membalik tumpukan sampah. Cara ini membantu petugas menjangkau bara api yang masih menyala di bagian dalam.

Pemprov Lampung Pantau Kualitas Udara

Pemerintah Provinsi Lampung turut memantau kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung Riski Sofyan melaporkan hasil pengukuran tujuh parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Pembaruan pada pukul 09.00 WIB, 19 Oktober 2026, menunjukkan hasil pengukuran masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara.

Berdasarkan hasil tersebut, kualitas udara masih dapat diterima untuk kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Meski demikian, masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan, terutama kelompok sensitif.

BPBD Pantau Empat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Selain menangani karhutla, BPBD Lampung memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Aswarodi melaporkan empat erupsi berdurasi pendek pada 18 Oktober 2026. Berdasarkan koordinasi dengan pos pengamatan dan relawan di Pulau Sebesi serta Pulau Tejang, abu vulkanik belum mencapai pulau-pulau terdekat.

Petugas juga melaporkan kondisi gelombang masih normal. Pemerintah tetap memantau perkembangan aktivitas gunung dan meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.

Mitigasi Karhutla Harus Dimulai dari Desa

Mirza meminta pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus bersiaga hingga musim hujan tiba. Ia juga mendorong setiap instansi menyampaikan perkembangan bencana secara berkala.

Pemerintah perlu menggabungkan pemadaman, patroli hutan, pemetaan titik panas, dan edukasi masyarakat. Koordinasi lintas daerah juga harus berjalan cepat agar petugas dapat menangani setiap kejadian.

Melalui langkah tersebut, Pemprov Lampung berharap petugas dapat mengendalikan kebakaran lebih cepat. Upaya ini juga bertujuan mengurangi dampak asap, melindungi pengguna jalan, dan mencegah kerusakan lingkungan.

Di tengah cuaca yang masih kering, masyarakat turut memegang peran penting. Menghindari pembakaran sampah dan lahan secara sembarangan dapat membantu mencegah munculnya titik api baru.***