Surat Gembala Paskah 2020 Keuskupan Sufragan Tanjungkarang

Keluargaku Bangkit Menyelamatkan Bumi dan Isinya

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG — Umat Katolik diajak bangkit bersama keluarga untuk menjaga lingkungan dan menyelamatkan bumi. Ajakan tersebut menjadi bagian dari permenungan Paskah 2020 yang disampaikan Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Tanjungkarang.

Dalam pesannya, Mgr. Yohanes mengajak keluarga Katolik melihat bumi sebagai ibu pertiwi dan rumah bersama. Menurutnya, menjaga bumi bukan sekadar menyelamatkan lingkungan. Lebih dari itu, upaya tersebut berarti menjaga kehidupan manusia dan seluruh ciptaan.

Bangkit Bersama Kristus untuk Menjaga Bumi

Selama 40 hari masa Pra-Paskah, umat diajak merenungkan karya penebusan Allah melalui pantang, puasa, dan doa. Tanda abu pada awal Pra-Paskah mengingatkan manusia pada asal dan kerapuhannya.

Kitab Kejadian menyebut manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah (Kej 3:19). Namun, kebangkitan Kristus memberikan harapan baru. Kristus mengangkat kerapuhan manusia dan memberikan martabat sebagai anak-anak Allah.

Karena itu, kebangkitan Kristus juga menjadi dorongan untuk merawat bumi. Menyelamatkan lingkungan berarti menjaga kehidupan manusia serta seluruh makhluk ciptaan.

Pohon dalam Kitab Suci

Pada Tahun Cinta Kitab Suci, perhatian terhadap lingkungan juga dapat diarahkan pada pohon dan tumbuhan. Kisah tentang pohon muncul sejak Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu.

Kitab Kejadian menyebut pohon kehidupan dan berbagai tumbuhan (Kej 2:9). Sementara itu, Kitab Wahyu menggambarkan pohon kehidupan yang menghasilkan buah dan daunnya berguna bagi penyembuhan (Why 22:2).

Selain menghasilkan makanan, tumbuhan juga menyediakan berbagai manfaat bagi manusia. Kitab Suci bahkan menggambarkan karya Allah dan ajaran Yesus melalui berbagai perumpamaan tentang tumbuhan.

Yesus, misalnya, menggunakan biji gandum untuk menggambarkan pengorbanan dan kehidupan baru. Biji gandum harus jatuh ke tanah dan mati sebelum menghasilkan buah (Yoh 12:24).

Karena itu, kecintaan terhadap pohon bukan sekadar persoalan lingkungan. Sikap tersebut juga dapat menjadi bagian dari refleksi iman.

Bumi sebagai Ibu Kehidupan

Pohon dan hutan memiliki peran penting bagi kehidupan. Hutan menghasilkan udara bersih, menyediakan makanan dan obat-obatan, serta menjadi habitat berbagai makhluk hidup.

Selain itu, hutan membantu menyimpan air dan menjaga kestabilan tanah. Hutan juga menyimpan karbon serta membantu mengurangi risiko banjir dan tanah longsor.

Namun, keberadaan hutan tropis terus menghadapi ancaman. Deforestasi terjadi akibat perkebunan, penebangan, pertambangan, pembangunan jalan, dan berbagai kepentingan lainnya.

Akibatnya, tutupan hutan terus berkurang. Bersamaan dengan itu, keanekaragaman hayati juga menghadapi ancaman serius.

Indonesia memiliki kawasan hutan tropis yang sangat luas. Pada akhir 1960-an, sekitar 82 persen wilayah Indonesia masih berupa kawasan hutan. Kini, luas tersebut telah berkurang hingga kurang dari setengahnya.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga hutan yang tersisa. Sebab, manusia juga bergantung pada hutan untuk mempertahankan kehidupan.

Keanekaragaman Hayati Terancam

Hutan tropis menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Banyak spesies bahkan hanya hidup di wilayah tertentu atau bersifat endemik.

Kerusakan habitat membuat spesies tersebut semakin rentan. Ketika hutan menghilang, berbagai makhluk hidup kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan.

Karena itu, deforestasi tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Kerusakan hutan juga dapat mengancam kehidupan manusia dalam jangka panjang.

Gereja Peduli Lingkungan Hidup

Gereja Katolik telah lama menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Paus Paulus VI melalui Ensiklik Populorum Progressio mengingatkan pentingnya melindungi masyarakat dari kerakusan.

Selanjutnya, Paus Yohanes Paulus II melalui Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis menegaskan bahwa manusia tidak boleh menggunakan alam sesuka hati. Pengelolaan lingkungan harus memperhatikan tuntutan moral dan kepentingan generasi mendatang.

Kemudian, Paus Benediktus XVI melalui Ensiklik Caritas in Veritate mengingatkan bahwa alam merupakan anugerah Allah bagi semua orang. Karena itu, manusia harus mengelolanya secara bertanggung jawab.

Gereja Katolik Indonesia juga memberikan perhatian terhadap persoalan lingkungan. Pesan SAGKI 2005, “Bangkit dan Bergeraklah”, mengajak umat mengatasi berbagai persoalan publik. Salah satu perhatian utamanya ialah lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan.

Selain edukasi, Gereja menjalankan advokasi dan berbagai upaya lain. Tujuannya ialah mendorong masyarakat menjaga lingkungan serta menghadapi kerusakan alam.

Laudato Si’ dan Rumah Kita Bersama

Paus Fransiskus kemudian memperkuat kepedulian tersebut melalui Ensiklik Laudato Si’ – Puji Bagi-Mu. Ensiklik itu mengangkat tema kepedulian terhadap rumah kita bersama.

Dalam dokumen tersebut, Paus Fransiskus mengkritik konsumerisme dan pembangunan yang tidak terkendali. Ia juga menyoroti kerusakan lingkungan serta pemanasan global.

Karena itu, Paus Fransiskus mengajak masyarakat dunia melakukan aksi global yang terpadu dan segera. Ensiklik Laudato Si’ bertanggal 24 Mei 2015 dan dipublikasikan pada 18 Juni 2015.

Mengubah Sikap terhadap Alam

Untuk menyelamatkan bumi, manusia perlu mengubah cara pandangnya terhadap alam. Alam tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai sumber keuntungan.

Pertama, manusia perlu menghormati alam sebagai ibu. Bumi menyediakan udara, makanan, air, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan kehidupan.

Kedua, manusia perlu memandang alam sebagai saudara atau saudari yang lebih tua. St. Fransiskus dari Asisi memberikan teladan dalam hal ini. Ia menyebut berbagai ciptaan sebagai saudara dan saudari.

Ketiga, alam perlu diperlakukan sebagai sahabat. Alam bukan hamba yang dapat dieksploitasi tanpa batas.

Sebaliknya, manusia perlu menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan. Pembalakan hutan, penambangan liar, sampah, dan penggunaan bahan kimia berlebihan dapat merusak hubungan tersebut.

St. Paulus mengingatkan bahwa bukan hanya manusia yang menantikan penebusan. Seluruh alam juga merasakan penderitaan dan menantikan pembebasan (Rm 8:18-23).

Selain itu, manusia dapat memandang alam sebagai “sabda ekologis Allah”. Alam merupakan karya Sang Pencipta. Karena itu, umat beriman perlu menghormati seluruh ciptaan.

Melakukan Aksi Nyata

Menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui wacana. Masyarakat perlu melakukan tindakan nyata.

Keluarga dapat memulai gerakan tersebut dari rumah. Misalnya, keluarga dapat mengurangi penggunaan plastik dan mengolah sampah organik menjadi pupuk.

Selanjutnya, masyarakat dapat menanam pohon dan membersihkan sungai. Kebiasaan membuang sampah sembarangan juga perlu dihentikan.

Menjaga hutan menjadi langkah penting lainnya. Jika hutan hilang, sumber air ikut terancam. Satwa dan serangga juga kehilangan habitat.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada pertanian. Para petani dapat mengalami kesulitan dalam proses penyerbukan alami. Akibatnya, risiko gagal panen dapat meningkat.

Peran Pemerintah dan Ilmuwan

Upaya menyelamatkan bumi juga membutuhkan kebijakan yang kuat. Karena itu, pemangku kebijakan perlu membuat regulasi yang jelas tentang perlindungan hutan dan satwa.

Penambangan liar dan perambahan hutan juga harus mendapat penindakan tegas. Dengan demikian, aturan lingkungan tidak berhenti sebagai dokumen.

Sementara itu, para ilmuwan dan akademisi dapat melakukan penelitian. Mereka dapat mencari sumber makanan alternatif dan obat-obatan dari tumbuhan.

Selain itu, penelitian mengenai energi terbarukan juga perlu diperkuat. Sumber energi nonfosil dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang merusak lingkungan.

Bangkit Merawat Bumi

Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengajak seluruh umat dan masyarakat yang berkehendak baik untuk merawat bumi. Bumi merupakan ibu pertiwi sekaligus rumah bersama.

Karena itu, menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab bersama. Keluarga, masyarakat, pemerintah, Gereja, ilmuwan, dan berbagai pihak perlu mengambil bagian.

Semoga manusia dapat memperbaiki bumi yang telah rusak. Dengan demikian, generasi mendatang tetap dapat menikmati lingkungan yang sehat dan kehidupan yang layak.

Pada akhirnya, ajakan merawat bumi juga menjadi bagian dari panggilan iman. Manusia dipanggil menjaga ciptaan Allah agar kembali menjadi tempat kehidupan yang baik.

“Marilah bangkit memperbaiki yang telah rusak ini menjadi seperti ketika diciptakan oleh Allah, yakni ‘sungguh amat baik adanya’ (Kej 1:31).”

SELAMAT PASKAH 2020

TUHAN MEMBERKATI

Salam doa dan berkat,

Mgr. Yohanes Harun Yuwono
Uskup Keuskupan Tanjungkarang

Sumber: Keuskupan Sufragan Tanjungkarang