ALTUMNEWS.Com, PESAWARAN — Desa Harapan Jaya di Kecamatan Way Ratai menyajikan pesona alam yang memikat. Selain itu, desa ini menyimpan potensi usaha lokal yang memicu kerinduan wisatawan untuk berkunjung kembali.
Berkat perpaduan daya tarik tersebut, kawasan ini berkembang menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Pesawaran.
Desa Harapan Jaya Miliki Wisata Alam dan Minyak Tradisional
Secara umum, wisatawan mengenal Desa Harapan Jaya melalui berbagai objek wisata air terjun. Sebagai contoh, pengunjung dapat menyambangi Air Terjun Sinar Tiga, Bukit Cendana, serta Air Terjun Penyarian.
Di samping keindahan alam, warga lokal bernama Budi Syahbudin merintis usaha penyulingan minyak tradisional sejak 2014. Sehingga, aktivitas ekonomi ini memperkuat daya pikat pariwisata setempat.
Enam Jenis Minyak Khas Desa Harapan Jaya
Istri Budi Syahbudin, Nunun, membeberkan bahwa kilang kecilnya memproduksi enam varian minyak alami.
“Kami mengolah enam varian minyak. Antara lain, minyak pala, sereh wangi, nilam, cendana, daun cengkeh, serta atsiri,” jelas Nunun.
Mengenai harga jual, Nunun mematok tarif Rp100 ribu untuk tiap botol ukuran 100 mililiter.
“Produk ini belum berlabel resmi. Namun, pembeli mengenalnya sebagai Minyak Bu Budi Bukit Cendana,” tambahnya.
Minyak Tradisional Miliki Beragam Manfaat
Selanjutnya, Nunun menguraikan khasiat mendasar dari setiap racikan minyaknya. Sebab, setiap ekstrak tumbuhan membawa kegunaan terapi yang berbeda.
“Minyak pala efektif menghangatkan badan serta meredakan masuk angin. Sementara itu, minyak sereh wangi membantu mengobati urat terjepit dan perut kembung,” paparnya.
Selain itu, ia memproduksi minyak cendana sebagai bahan pewangi ruangan maupun campuran umpan pancing. Bahkan, minyak nilam berkhasiat menjaga kesehatan kulit sekaligus menekan pertumbuhan kuman.
“Minyak cengkeh ampuh menyembuhkan gatal serta sakit gigi. Sedangkan, kami mengirim minyak atsiri ke Bogor,” tutur Nunun.
Minyak Sulingan Jadi Oleh-Oleh Favorit Wisatawan
Dalam kesehariannya, Nunun kerap menawarkan hasil sulingan tersebut kepada para pelancong di Bukit Cendana. Hasilnya, banyak pengunjung menjadikannya sebagai buah tangan khas.
Namun demikian, usaha produktif ini masih membentur kendala keterbatasan sarana. Oleh sebab itu, Nunun mengharapkan sentuhan dukungan dari pemerintah daerah.
“Bahan baku melimpah di desa kami. Sayangnya, kami kekurangan alat suling karena belum menerima bantuan pemerintah,” pangkasnya.***





