Kopi Widodo Desa Harapan Jaya Pesawaran, Produk Kopi Khas Lampung dari Lereng Gunung Sukma Ilang

Desa Harapan Jaya Pesawaran Lampung memiliki potensi wisata yang menarik. Selain Air Terjun Sinar Tiga dan Bukit Cendana, desa ini juga mulai mengenalkan produk kopi khas bernama Kopi Widodo.

ALTUMNEWS.com, PESAWARAN — Nama Dusun Sinar Tiga, Desa Harapan Jaya, Pesawaran, selama ini melekat dengan wisata Air Terjun Sinar Tiga dan Bukit Cendana. Kini, produk kopi dari dusun tersebut mulai menarik perhatian wisatawan.

Selain cita rasa, asal biji kopi dari lereng Gunung Pesawaran (Sukma Ilang) menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat kopi.

Kopi Widodo Tumbuh dari Lereng Gunung Pesawaran

Petani di kawasan lereng Gunung Pesawaran menanam kopi di sejumlah wilayah. Salah satunya berada di Kecamatan Way Ratai.

Wilayah ini menghasilkan ribuan ton kopi robusta setiap tahun. Desa Harapan Jaya menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di kawasan tersebut.

Dusun Sinar Tiga berada pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari Bandar Lampung, wisatawan membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan.

Wisatawan dapat menuju lokasi menggunakan kendaraan pribadi. Sebab, kendaraan umum hanya melayani rute lintas Padang Cermin-Kedondong.

Perjalanan Menuju Dusun Sinar Tiga Suguhkan Panorama Alam

Pengunjung dapat masuk melalui Pasar Bunut atau Pemandian Air Panas Way Urang. Namun, wisatawan belum menemukan transportasi publik yang langsung menuju Dusun Sinar Tiga.

Jalur menuju desa tersebut cukup baik. Meski demikian, pengendara tetap harus berhati-hati karena jalan memiliki tanjakan, tikungan, dan lebar sekitar 2,5 meter.

Saat musim hujan, jalan menjadi lebih licin. Namun, sepanjang perjalanan, pengunjung akan menikmati pemandangan pegunungan yang sejuk dan indah.

Kopi Widodo Jadi Produk Unggulan Desa Harapan Jaya

Jangan menganggap Dusun Sinar Tiga sebagai daerah tertinggal hanya karena akses jalannya menantang. Dalam beberapa tahun terakhir, warga terus mengembangkan berbagai potensi lokal.

Selain wisata Air Terjun Sinar Tiga dan Bukit Cendana, warga juga menghadirkan produk kopi bubuk khas bernama Kopi Widodo.

Teguh Widodo (47), warga Dusun Sinar Tiga, membuat kopi tersebut sejak 2017. Ia memulai usaha itu setelah wisata Air Terjun Sinar Tiga berkembang.

“Saya mulai memproduksi kopi ini sejak tahun 2017 lalu. Saat itu terbentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kami mendapat arahan untuk membuat produk kreatif dari kebun kopi sendiri,” kata Teguh kepada Altumnews.com, Selasa, 1 September 2020.

Kopi Asli Lereng Pesawaran Punya Tiga Varian Rasa

Teguh memilih biji kopi terbaik dari kebunnya sendiri untuk membuat Kopi Widodo.

“Kami memilih biji kopi terbaik yang langsung dipetik dari kebun kami di lereng pegunungan Pesawaran,” ujarnya.

Kopi Widodo menghadirkan tiga pilihan rasa, yaitu original, pala, dan jahe.

Untuk varian original, Teguh menjual kemasan satu kilogram seharga Rp50 ribu. Kemasan 500 gram dijual Rp25 ribu, seperempat kilogram Rp15 ribu, dua ons Rp10 ribu, dan satu ons Rp5 ribu.

Sementara itu, varian jahe dan pala memiliki harga lebih tinggi. Kemasan satu kilogram dijual Rp80 ribu, 500 gram Rp40 ribu, seperempat kilogram Rp25 ribu, dua ons Rp15 ribu, dan satu ons Rp8 ribu.

Kopi Widodo Jadi Oleh-Oleh Wisatawan Pesawaran

Teguh memasarkan Kopi Widodo melalui warung sekitar dan pesanan wisatawan dari luar daerah.

Produksi kopi setiap hari bergantung pada jumlah pesanan. Dalam kondisi tertentu, Teguh mampu membuat hingga 10 kilogram kopi.

Wisatawan yang berkunjung ke Air Terjun Sinar Tiga dan Bukit Cendana sering membeli Kopi Widodo sebagai oleh-oleh.

“Kopi Widodo berbeda karena menggunakan 100 persen kopi asli dari lereng pegunungan Sukma Ilang (Pesawaran),” ungkap Teguh.

Pengusaha Kopi Harapkan Dukungan Pemasaran

Teguh berharap pemerintah daerah membantu pengembangan Kopi Widodo, terutama dalam bidang pemasaran.

“Kami meminta dukungan pemerintah daerah. Sebelumnya kami sudah menerima bantuan alat roasting kopi, tetapi masih terkendala pemasaran karena lokasi kami jauh dari kota,” pungkasnya.

Editor: Robertus Bejo