oleh

BI Lampung Dorong Penggunaan Transaksi Non-Tunai Dalam Membangkitkan Pemulihan Ekonomi Kawasan Wisata Pesawaran

ALTUMNEWS.Com, BANDARLAMPUNG — Sejak diberlakukannya kebijakan social distancing atau pembatasan sosial atau menjaga jarak hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia, segala aktivitas menjadi lumpuh termasuk aktivitas perekonomian.

Salah satu sektor perekonomian yang terkena imbas dari Covid-19 ini adalah sektor pariwisata. Destinasi pariwisata yang seharusnya meningkatkan kehidupan perekonomian masyarakat di daerah menjadi lumpuh karena adanya Covid-19.

Demikian hal itu dikemukanan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan dalam kegiatan webinar Pemulihan Kawasan Wisata Pesawaran Melalui Transformasi Pembayaran Digital, Senin (30/11/2020).

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Agustus 2020 sebanyak 164.970 kunjungan atau turun 89,22% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,51 juta kunjungan.

“Pendapatan dari berbagai sisi diantaranya retribusi masuk obyek wisata, pajak hotel, restoran dan industri makanan serta perizinan usaha pariwisata lumpuh akibat tidak adanya pengunjungatau wisatawan baik mancanegara maupun domestik,” kata Budiharto Setyawan.

Menurutnya, beberapa hotel dan restoran yang menjadi bagian dari sektor pariwisata benar-benar merasakan dampak dari Covid-19 ini. Bahkan tidak sedikit restoran dan hotel yang terpaksa harus mem-PHK parapekerjanya karenaharus menghitung resiko yang ditanggungnya.

“Hal ini juga pastinya berdampak bagi pariwisata di Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung khususnya terhadap PenerimaanPendapatan Asli Daerah (PAD) dan Perekonomian UMKM Sektor Pariwisata,” imbuhnya.
Dikatakan Budiharto Setyawan, diperlukan adanya suatu strategi pemulihan dan penguatan ketahanan perekonomian bagi pariwisata dan UMKM sektor pariwisata Provinsi Lampung.

Setiap aktivitas ekonomi kita sehari-hari, mulai dari membeli bahan makanan, berlangganan jasa telekomunikasi, sampai dengan memenuhi kebutuhan transportasi tidak terlepas dari transaksi menggunakan alat pembayaran, baik tunai maupun non tunai.

BACA JUGA:  Kwarda Gerakan Pramuka Lampung Ikuti Aksi Bersih-Bersih pada World Cleanup Day 2020

“Apalagi di era digitalisasi saat ini, kami mencermati bagaimana instrumen dan sarana pembayaran ritel elektronik tumbuh kian marak di Indonesia, guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan alat pembayaran yang semakin cepat, mudah dan praktis,” imbuhnya.

Semakin pesatnya perkembangan teknologi telah mendorong beragam inovasi di berbagai sektor, termasuk sistem pembayaran. Sistem pembayaran digital secara non tunai baik Alat Pembayaran dengan menggunakan Kartu (kartu ATM/Debet, kartu Kredit) maupun uang elektronik baik chip based maupun server baseddan penggunaan teknologi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk pembayaran telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam setiap sendi kehidupan masyarakat yang ke depan akan mendorong terciptanya ekosistem digital.

“Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perkembangan transaksi pembayaran secara digital cukup pesat terjadi di instrumen pembayaran dan e-commerce. Berdasarkan data yang tercatat pada Bank Indonesia, rata-rata peningkatan jumlah transaksi didominasi oleh penggunaan instrument pembayaran Uang Elektronik sebesar Rp91,4% dan transaksi e-commerce sebesar 80,87%. Terlebih pasca adanya pandemic COVID-19, dimana dituntut untuk mematuhi protokol kesehatan selama pandemik sehingga kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi sangat dibutuhkan,” paparnya.

Indonesia memiliki pangsa pengguna internet yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2021 diproyeksikan akan mencapai 212,35 juta jiwa. Didukung lebih dari 1,7 juta merchant, jumlah pengguna ecommerce juga terus meningkat dan pada 2021 diproyeksikan akan mencapai 148,35 juta jiwa atau setara dengan 54% populasi penduduk.

“Indonesia memiliki pondasi sistem pembayaran digital yang sangat kuat dengan bonus demografi jumlah penduduk yang mencapai 269 juta jiwa. Terlebih populasi golongan muda atau milenial paham teknologi yang terhitung dominan sebesar 59,71% menjadi peluang digitalisasi yang sangat sangat kuat.”
“Selama PSBB berlangsung, penggunaan pembayaran secara digital mampu mendorong pemulihan perekonomian pada sektor pariwisata, hal ini terbukti dengan adanya peningkatan transaksi,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Bank Indonesia Apresiasi Kegiatan Semarak Batik Lampung dan Tanaman Hias 2020

Asal tahu saja, dalam webinar ini menghadirkan narasumber utama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pesawaran, Elsafri Fahrizal.***

Editor : Robertus Bejo

Komentar

News Feed